Senin, 20 Februari 2012

Dikala Kaum Sosialita Menari, Mereka Merintih

cerita ini bukan cerita saya. tapi ini kisah nyata. kisah nyata di kota metropolitan. yang penuh dengan cahaya. penuh dengan hura-hura. penuh dengan kaum sosialita. namun menutup mata untuk jelata.

malam minggu itu, saya, winda, desvi, dan teh wulan janjian di simpang dago. kami hendak melepaskan rindu untuk menyantap ayam bakar di daerah tubagus ismail, bandung. sekalian perpisahan dengan teh wulan yang akan kembali ke padang karena telah menyelesaikan pendidikan S2 nya di universitas padjajaran dengan hasil cumlude, CONGRUTULATION teh wulan... ^^
setibanya di simpang dago, teh wulan terlihat sedang meraba-raba seseorang yang disebrang jalan. seorang anak penjual bunga yang ia rasa kenal. namun belum bisa memastikan, karena memang banyak mobil yang lalu-lalang di jalan dago malam itu. ketika saya tanya, siapa anak perempuan itu, ia hanya menjawab sepertinya ia kenal dengan anak itu tanpa menjelaskan lebih lanjut.
sembari berlari kecil, teh wulan membeli kacang goreng, yang ternyata untuk anak tersebut. tapi memang belum rezeki, ketika mengejar anak tersebut, ternyata si anak sudah pergi dari lampu merah tempat dia dan beberapa anak jalanan lainnya berjualan bunga. alhasil kami semua segera menaiki angkot caringin-sedang serang untuk menuju jalan tubagus ismail.

masih diselimuti rasa penasaran, akhirnya aku kembali bertanya,

"teteh kenal dengan anak perempuan yang tadi?"

"iya, aku kenal dengan dia. sudah dua kali dia menemaniku ngobrol ketika aku pulang malam. lama sekali dia menemaniku sampai aku dapat angkot. dia banyak bercerita tentang hidupnya. anaknya baik dan ramah. aku kasihan padanya."

"memang dia siapa? kenapa bisa kenal?"

"dia anak penjual bunga. kadang-kadang jual koran juga. dia cerita kalau ibunya dari padang juga. tapi sudah lama merantau ke bandung. dan jika aku pulang malam kuliah, dia sering nemeni aku ngobrol."

"memang dia tinggal dimana? sekolah gak?"

"dia gak tinggal dengan orang tuanya. dia tinggal di rumah singgah bersama anak-anak yang lain. ibunya tukang cuci. dia punya adek. dan bapaknya tidak bekerja. di rumah singgah itu katanya dia dibekali keahlian, diajari main biola, menjahit, dan sebagainya. namun untuk gantinya, mereka disuruh menjual bunga. semalam itu, jika laku Rp.10.000 saja per orang, maka mereka sudah boleh pulang. dan jika lebih, uangnya boleh untuk ditabung mereka sendiri."

terhenti di cerita itu, kami terdiam. sedih. ternyata kita memang harus banyak-banyak bersyukur dengan apa yang diberi Tuhan kepada kita. dengan semua keberlimpahan ini, terkadang kita masih suka mengeluh ini-itu.

kemudian teh wulan melanjutkan ceritanya...

"aku pernah merasa bersalah dengannya. makanya tadi aku berniat mengejar dia."


"memang ada apa teh?"

"waktu itu aku pernah mengajaknya makan di MCD. aku menyuruhnya untuk pergi cuci tangan, dia bilang dia tidak bisa sendiri. akhirnya aku menemaninya. belum selesai ia menghabiskan makanannya, tiba-tiba dia bertanya, apakah dia boleh menyisahkan makanannya itu dibungkus untuk adiknya? katanya biar adiknya makan enak juga. terenyuh hatiku mendengar itu. dia, yang masih kecil itu saja tau makna berbagi. aku katakan silahkan. kemudian kami pergi cuci tangan sebentar. sekembalinya ke meja, ternyata makanan yang ia sisakan untuk adiknya itu sudah dibersihkan pelayan MCD. aku sempat sedikit marah kepada pelayannya, tapi pelayan itu minta maaf karena tidak tahu. anak itu bilang ke aku, gak kenapa-kenapa kok kak, kan air minumnya masih ada. masih bisa untuk adek. ingin menangis, tapi uang ku benar-benar tersisa untuk ongkos."

aku terdiam. ya Tuhan,,,mendengar itu semua, seperti sinetron saja. tapi ini nyata disekitar kita. andai saja orang-orang BERMOBIL itu mau sedikit saja berbagi, mungkin dia bisa membawa makanan enak untuk adeknya. andai saja orang-orang BERMOBIL di lampu merah itu mau membeli bunga yang ia jual, setangkai saja, mungkin dia tak perlu berlama-lama bermain dengan angin malam yang dingin.

Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar di pelihara oleh Negara.
“di pelihara” agar semakin banyak!!

8 komentar:

  1. subhanawllah.. merinding kak bacanya.. ternyata orang-orang seperti adknya itu lebih memahami arti berbagi dari pada orang-orang yang bermobil..
    oya kak di bandung emang angkotnya beroprasi ampe malem ya.. sayang ya di jogja cuman ampe magrib #malahcurhat hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah lingkungan kita. yang katanya makhluk sosial ituu..

      iya, disini angkot 24 jam. di jogja susah sekali angkot ya? waktu itu jam 9 saja sudah ga ada :(

      Hapus
  2. ya Allah.. terharu bacanya. eh beneran deh pengen banget ke panti asuhan atau rumah singgah gitu, ketemu mereka yang nasibnya ga seberuntung kita. salam buat Teh Wulan dan semoga nanti bisa ketemu lagi dengan anak kecil hebat itu :)

    BalasHapus
  3. ya allah terharu, betapa masih kurangnya kita bersyukur.. hmph*

    BalasHapus
  4. aisah, nyentuh sekali postingnya
    aku juga punya tulisan serupa yang belum aku posting

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya om, dan ini kisah nyata parahnya....

      Hapus