Senin, 27 Mei 2013

Cerita di Mei Saya bagian 2.

| Well done today !! ^^ X.Ak 2, thanks for everything. You did the best, guys ;) 
Ibu pada mu lah pokok nya *big hug* |

Yah, 27 Mei 2013, Finally....... :))
ujian PPL yang tertunda itu berjalan dengan lancar, bahkan lebih lancar dari jalan tol yang kabarnya tanpa traffic light itu. Serius ini ya, setelah ujian itu, suasana hati nano-nano. disatu sisi bahagia membahana karena satu step menuju S.Pd semakin dekat. tapi disisi lain, ada rasa haru meninggalkan siswa-siswa yang imut-imut itu.

Banyak hal yang dipelajari selama 5 bulan PPL ini. saya jadi tau bagaimana rasanya disapa dengan kata "bu guru" itu, saya juga tau bagaimana bersikap sebagai guru, dan juga yang saya tau, jadi guru itu memang tidak semudah yang dibayangkan, tapi tidak sesulit yang dirasakan juga ;)

Kita tinggalkan dulu kisah haru-biru menjadi guru. Mari lanjutkan journey of angkoterss itu.
5 bulan PP Ledeng-kalapa itu, membuat saya mengerti betul jalur, kriteria dan seluk-beluk dunia peraangkotan. saya tau mana supir yang pinter menyalip, mana yang "kasar" menyupir nya dan juga mana yang bekerja sebagai supir dari hati nan ikhlas.

berikut sedikit penjabaran dari dunia perangkotan yang saya teliti selama 5 bulan terakhir ini :

1) Supir yang pinter menyalip : kebanyakan dari mereka adalah yang berusia sekitar 30-35 tahun. kenapa demikian? pada usia-usia ini, mereka dianggap cukup stabil emosinya dalam mengendarai angkot. dibilang muda, tidak. dibilang tua juga, belum. jadi, pengalaman mereka di jalan sudah dianggap mumpuni, karena memang memulai karier menjadi tukang angkot itu biasanya dimulai ketika usia pertumbuhan mereka pada fase "ALAY" (fase pertumbuhan : bayi-balita-remaja muda-ALAY-dewasa). dalam menyalip kendaraan di depannya, supir yang pinter menyalip ini tidak akan membuat penumpangnya puyeng kelimpungan karena suka rem mendadak. 

2) supir yang "kasar" : jenis supir seperti ini berusia disekitaran usia "ALAY" tersebut. ciri-ciri penampilan fisik mereka itu, suka memakai tindik ditelinga, baju hitam-hitam, rambut kemerah-merahan kayak daun jagung yang dimusim panas, ceking, dan sering tidak mandi sepertinya -___-"
mereka ini menyupir seperti jalanan itu punya mbah kakung nya saja, mengendarai angkot seenak jidatnya, seolah-olah semua penumpang di angkot ini adalah BATU !!! 

3) supir yang ikhlas : nah, usia pada supir nan ikhlas ini biasanya sudah memasuki dewasa akhir. mereka mengendarai angkot dengan hati-hati, mengembalikan uang bayaran angkot sesuai ketentuan, tidak kasar menyupirnya dan tidak suka ngebut. namun supir angkot jenis seperti ini hampir punahh T___T

Perjalanan ledeng-kalapa itu sebenarrnya tidak terlalu jauh. bisa ditempuh dengan 45 menit. tapi kembali lagi pada jenis supir angkotnya. adakalanya ngetem adalah hobby tukang angkot kalapa-ledeng. kalau sudah begitu, waktu 1-1,5 jam harus ditelan ikhlas oleh para penumpang. 

satu hal juga yang perlu diketahui. cuaca ekstrim antara ledeng dan kalapa itu tidak bisa dipandang dengan mata berkedip. ledeng adalah daerah dataran tinggi, dimana dekat dengan lembang nan sejuk. sementara kalapa merupakan syurga nya matahari nan terik. jadi wajar saja, 1-1,5 jam berada di dalam angkot, membuat anda berasa seperti cilok rebus yyang empuk-empuk hangat T____T

Sekian kisah di Mei ini. sampai jumpa di juni yang indah ^_^
semoga ada kisah yang mengharu-biru lagi ya. Oh iya, mohon doanya teman-teman... 5 juni ini, InsyaAllah saya seminar proposal skripsi :)

15 komentar:

  1. Wah kiranya kaya apa yang lebih cepat dari jalan Tol.....
    Tidak pernah terbayangkan heheheee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tau burokh? pernah liat burokh? hahaaa

      Hapus
  2. Semoga skripsi tentang supir angkotnya lancar #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. antara skripsi dan tukang angkot itu adalah cerita cinta yg berbeda, Fit. hihihi

      Hapus
  3. tambahanan mbak, saya sebagai pengguna angkot mau tanya,

    kalo jenis supir yang suka ngebut lantaran berebut penumpang itu masuh jenis angkot apa? Alay juga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan, itu jenis maruk. hahaha

      Hapus
  4. Goodluck bt seminar Proposalnya mbak aisa :)

    BalasHapus
  5. hahaha cilok rebus ... *beda yg di komen yang beraroma makanan aja gkgk..
    klo aku jd iga bakar dong ya.. #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. cilok..cilok... mau bumbu kacang apa bumbu kering?

      Hapus
  6. Naik angkot memang banyak suka dukanya. Sesama pengguna setia angkot, tahulah gimana rasanya jadi cilok rebus hehehe ....

    BalasHapus
  7. Dari tulisan mas Qefi yang menceritakan tentang mbak Aisa, saya jadi kemari deh tuh.
    Membahas tentang usia supir dan hubungannya dengan lama perjalanan. wkwkwkwk... ide bagus. Nggak kepikiran :D

    BalasHapus
  8. oalah...ckck..itu kang qefy nya aja yg emng ngefans sm aku. hihihi
    mari mampir lg lain waktu :)

    BalasHapus
  9. PPL memang membawa banyak cerita :)

    BalasHapus